Sunday, September 18, 2011

Nostradamus Ramalkan Serangan Teroris 9/11?


Kisah ini bermula hampir satu dekade lalu dan beredar selama berbulan-bulan dan hingga kini masih diyakini banyak negara. Serangan 9/11 sudah diramalkan sejak lama.

Banyak orang di banyak negara yakin serangan 11 September 2011 di World Trade Center telah diramalkan oleh penulis Prancis ternama abad 16, Nostradamus. Ia menulis tulisannya dalam dwimakna.

Para pengikut penulis ini yakin dan mengklaim, Nostradamus telah meramalkan semua hal, mulai Perang Sipil Amerika, Hitler hingga pembunuhan John F Kennedy. Para pengikut ini berupaya memberi arti baru pada tulisan samar-samar Nostradamus.

Berikut beberapa ramalan penulis Prancis tersebut yang terdengar menyeramkan. “Dua burung baja akan jatuh dari langit di Metropolis. Langit akan terbakar pada lintang empat puluh lima derajat. Api mendekati kota besar baru. Segera api besar menyala dan tersebar. Dalam beberapa bulan, sungai-sungai akan mengalir dengan darah. Mayat hidup akan berkeliaran di muka bumi untuk beberapa saat”.

Sangat mudah menyesuaikan kata-kata tersebut dengan kejadian aktual 9/11. Terlebih pada baris kedua saat New York (‘Metropolis’) yang terletak di lintang 40 derajat utara. Bagi mereka yang baru pertama membaca tulisan Nostradamus, orang itu akan yakin penulis ini memang telah meramalkan tragedi itu.

Jika Anda akrab dengan tulisan Nostradamus, meski prediksi tertentu tak benar, tulisan ini sebenarnya merupakan hibrida ayat nyata dan fiksi Nostradamus dan siapa pun yang menulis ulang tulisan itu sangatlah ceroboh.

Tak hanya tulisan ini tak ditulis dalam bentuk syair sesuai gaya penulisan khas Nostradamus, frase ‘dua burung baja’ merupakan lontaran begitu saja karena baja tak ditemukan hingga 1854, hampir 200 tahun setelah Nostradamus meninggal.

Syair baru yang diduga baru muncul setelah 9/11 berbunyi, “Di kota Tuhan akan ada guntur besar. Dua saudara terkoyak kekacauan sementara bentengnya bertahan. Para pemimpin besar akan menyerah. Perang besar ketiga akan dimulai saat kota besar terbakar- Nostradamus 1654”.

Mengingat fakta Nostradmaus meninggal pada 1566, 88 tahun sebelum syair itu seharusnya ditulis, tulisan ini memang tampak luar biasa. Tulisan tersebut sebenarnya diterbitkan di situs Kanada sebagai bagian esai seberapa mudah ramalan yang terdengar penting bisa dibuat menggunakan citra samar-samar.

Apa yang dimulai sebagai bagian dasar skeptis menjelaskan bagaimana ramalan bisa membodohi orang dan akhirnya beredar sebagai hal yang nyata. Terdapat banyak ramalan Nostradamus palsu mengenai 9/11, lalu bagaimana dengan yang nyata?

Sarjana Nostradamus Peter Lemesurier mencatat dalam bukunya ‘Nostradamus, Bibliomancer: Man, Myth, The Truth’, satu syair bisa diterjemahkan menjadi, “Api gempa Bumi dari pusat dunia bergemuruh. Dan membuat Bumi di sekitar ‘Kota Baru’ bergetar.”

Mungkinkah ‘api gempa bumi’ adalah ledakan dari Twin Towers? Dan ‘Kota Baru’ berarti New York? Jika Anda tak mengetahui Nostradamus, hal ini mungkin tampak masuk akal namun Lemesurier menunjukkan, kalimat asli Nostradamus pada ‘Kota Baru’ adalah ‘cite neufve’ yang lebih mungkin berarti sebuah kota yang namanya diambil dari bahasa Yunani atau Latin.

Hal ini menunjukkan, yang dimaksud bukan mengganti kata tua dengan ‘baru’ seperti pada New York atau New Orleans. Lebih lanjut, Nostradamus secara eksplisit menyatakan, ‘api gempa bumi’ tak akan datang dari langit melainkan ‘pusat dunia’ yang cenderung merujuk pada lava letusan gunung berapi.

Lemesurier menyimpulkan, “Dari New York atau tragedi 9/11, Nostradamus jelas tak mengatakan apa pun.” Meski ia memiliki banyak pengikut, analisis tulisan Nostradamus mengungkap, ia tak meramal.

Gantinya, ia malah membuat pasca-diksi atau pernyataan yang akan menjadi nyata setelah membacanya. Jika Nostradamus benar meramal serangan 11 September, dunia telah mengetahuinya sejak berabad-abad lalu sebelum peristiwa ini terjadi seperti dikutip Science.

(Sumber: http://teknologi.inilah.com/read/detail/1775619/nostradamus-ramalkan-serangan-teroris-911 )

No comments:

Post a Comment